Kita sering mendengar atau mendownload file-file dengan ekstensi .zip, .tar.gz, .tar, .tar.bz2, .rar, .jar. Nah pertanyaannya, sebenernya file apa sih itu? Di dalam kehidupan sehari-hari, kita bekerja dengan menggunakan banyak file. Suatu saat kita ingin mengumpulkan file-file tersebut di dalam sebuah file agar kita tidak bingung akan banyaknya file yang ada (archiving). Selain dapat dikumpulkan, file tersebut juga dapat dikompresi agar file yang dihasilkan tidak terlalu besar (compression).
Format file archive Ada beberapa format file yang digunakan untuk membuat file archive. Misalnya Unix Archiver (.a, .ar), Tape Archiver (.tar), LBR (.lbr). Unix Archiver digunakan pada platform Unix-like, merupakan format archive tradisional yang sekarang hanya digunakan untuk membuat static libraries. Tape Archiver, juga digunakan pada platform Unix-like, yang merupakan format archive yang umum digunakan. Sedangkan LBR digunakan pada platform MS-DOS.
Format file compression Untuk mengkompres data, ada beberapa format file yang digunakan seperti bzip2 (.bz2), gzip (.gz), lzma (.lzma), lzo (.lzo), pack (.z), compress (.Z). Perbedaan masing-masing format kompresi ini adalah algoritma yang digunakan. Seperti bzip2 yang menggunakan Burrows-Wheeler transform diikuti dengan move-to-front transform dan terakhir Huffman coding. Format gzip yang menggunakan algoritma DEFLATE untuk kompresi data, lzma menggunakan algoritma 7-zip, lzo menggunakan algoritma LZO. Beberapa dari format kompresi data ini digunakan bersama-sama ketika meng-archive file. Seperti Tape Archiver (.tar) yang digunakan bersama bzip2 (ekstensi file menjadi .tar.bz2), gzip (ekstensi file menjadi .tar.gz) atau compress (ekstensi file menjadi .tar.Z).
File archive dan compression Sekarang ini sudah banyak format file yang menawarkan archive dan compression. Seperti ARC (.arc), ARJ (.arj), Cabinet (.cab), ZIP (.zip), Jar (.jar), Tar dengan GZip, BZip2, Compress, LZMA (.tar.gz, .tgz, .tar.bz2, .tar.Z, .tar.lz, .tlz). Jenis-jenis format ini “boleh” di-restore dengan software gratisan (tanpa perlu lisensi dari si pembuat format file tersebut). Sedangkan format file seperti WinACE (.ace), RAR (.rar), StuffIt (.sit, .sitx) hanya “boleh” di-restore oleh software tertentu (software yang telah mendapat lisensi untuk merestore/ekstrak file dari si pembuat format file tersebut).
File-file yang telah di-archive dan compress biasanya sering dijumpai di Internet. Karena, untuk pertukaran data yang cepat, diperlukan sebuah metode untuk mengirimkan data dalam jumlah yang sedikit dan dengan ukuran yang kecil.
Kompresi berarti memampatkan /mengecilkan ukuran. Kompresi data adalah proses mengkodekan informasi menggunakan bit atau information-bearing unit yang lain yang lebih rendah daripada representasi data yang tidak terkodekan dengan suatu sistem enkoding tertentu. Contoh kompresi sederhana yang biasa kita lakukan misalnya adalah menyingkat kata-kata yang sering digunakan tapi sudah memiliki konvensi umum. Misalnya: kata “yang” dikompres menjadi kata “yg”. Pengiriman data hasil kompresi dapat dilakukan jika pihak pengirim/yang melakukan kompresi dan pihak penerima memiliki aturan yang sama dalam hal kompresi data. Pihak pengirim harus menggunakan algoritma kompresi data yang sudah baku dan pihak penerima juga menggunakan teknik dekompresi data yang sama dengan pengirim sehingga data yang diterima dapat dibaca/di-dekode kembali dengan benar. Kompresi data menjadi sangat penting karena memperkecil kebutuhan penyimpanan data, mempercepat pengiriman data, memperkecil kebutuhan bandwidth. Teknik kompresi bisa dilakukan terhadap data teks/biner, gambar (JPEG, PNG, TIFF), audio (MP3, AAC, RMA, WMA), dan video (MPEG, H261, H263).
Tujuan Kompresi data yaitu memperkecil ukuran file / data dalam penyimpanan maupun transmisi.
Dual tone multiple frekuensi (DTMF) adalah piranti semikonduktor yang di rancang untuk di gunakan pada sistem dial pesawat telepon. DTMF membangkitkan suatu sinyal nada yang merupakan kombinasi dari 2 buah nada yang memiliki frekuensi rendah dan frekuensi tinggi. Kelompok frekuensi rendah meliputi 697 Hz, 770 Hz, 852 Hz, dan 941 Hz. Sedangkan kelompok frekuensi tinggi meliputi frekuensi 1209 Hz, 1336 Hz, 1477 Hz, dan 1633 Hz. Kombinasi dari kelompok frekuensi rendah dengan frekuensi tinggi yang saling berpasang pasangan membentuk 16 macam kombinasi pasangan nada sinyal DTMF yang standard.
Alat pengirim kode DTMF merupakan 8 rangkaian oscilator yang masing – masing membangkitkan frekuensi. Selain itu ada rangkaian pencampur frekuensi untuk mengirimkan 2 nada yang terpilih. Sedangkan untuk penerima kode DTMF lebih rumit. Penerima dibentuk dari 8 buah filter yang tidak sederhana dan rangkaian tambahan lainnya. Untuk penggunaan DTMF pada sistem kontrol jarak jauh, maka diperlukan lagi dua buah sistem yaitu sistem pemancar DTMF dan penerimanya.
Adapun nada DTMF juga digunakan pada sistem alat-alat komunikasi misalnya pada handphone, tetapi nada DTMF yang ada pada handphone ini hanya terdapat 12 buah nada DTMF yaitu sesuai dengan jumlah ‘tombol nomor’ standar pada handphone . Nada-nada DTMF pada handphone ini dihasilkan dari variasi 4 buah frekuensi rendah dan 3 buah frekuensi tinggi, 4 buah frekuensi rendah mewakili banyaknya baris pada keypad handphone dan 3 buah frekuensi tinggi mewakili banyaknya kolom pada keypad handphone, variasi dari frekuensi-frekuensi tersebut dapat dilihat pada table Data Pengkonversian Sinyal DTMF.
Setiap baris dan kolom mempunyai nada tertentu, sebagai contoh pada gambar di bawah angka 8 pada tombol DTMF, telepon menghasilkan dua tone secara simultan, baris 3 menghasilkan tone [852 Hz] dan kolom 2 [1336 Hz]. Begitu juga pada angka 3 pada tombol DTMF telepon menghasilkan dua tone secara simltan yaitu baris 1 menghasilkan tone [697 Hz] dan kolom 3 [1477 Hz].
Pada pesawat telepon disediakan tombol tombol tekan yang dapat digunakan untuk memasukan nomor yang akan di hubungi. Penekanan salah satu tombol angka akan menghasilkan dua macam frekuensi yaitu (frekuensi tinggi dan frekuensi rendah) sesuai matriknya. Kedua frekuensi ini yang akan di kirimkan ke pusat pensaklaran sehingga pensaklaran akan tau nomor yang di tekan oleh pelanggan.
Komponen DTMF di bedakan menjadi dua macam yaitu
DTMF decoder (Pengawas Sandi)
DTMF encoder (Penyandi DTMF)
DTMF (dual Tone Multi Frekwensi) decoder merupakan Frekwensi yang berasal dari penekanan tombol telepon pada pesawat telepon pengirim ke penerima. Dekoder DTMF di semua sistem menggunakan sinyal DTMF. Fungsi dari dekoder DTMF adalah untuk mengartikan sepasang nada persinyalan dan memberikan data keluaran yang sesuai dengan sinyal DTMF yang diterima. Gambar di bawah ini merupakan fungsional dari dekoder DTMF. Dekoder DTMF merupakan penerima DTMF yang mengintegrasikan filter bandsplit dan fungsi-fungsi dekoder digital.
Bagian filter bandsplit digunakan untuk memisahkan nada-nada dari kelompok frekuensi rendah dan frekuensi tinggi. Sedangkan dekoder digital menggunakan teknik penghitung digital untuk mendeteksi dan mengkodekan pasangan nada yang ada pada DTMF ke dalam bentuk kode biner 4-bit. Untuk rangkaian clock internalnya dilengkapi dengan tambahan osilator kristal. Proses pemisahan nada-nada pada kelompok rendah dan kelompok rendah dan kelompok frekuensi tinggi dapat dicapai dengan memberikan sinyal DTMF ke input bandpass filter yakni bandwith yang terhubung dengan frekuensi-frekuensi kelompok rendah dan frekuensi kelompok tinggi. Bagian filter juga dapat menggabungkan patahan frekuensi, untuk penolakan kelompok nada tertentu. Setiap keluaran filter diikuti dengan sebuah bagian filter yang berguna untuk memperhalus sinyal, yaitu filter kelompok frekuensi rendah dan filter kelompok frekuensi tinggi.
DTMF decoder adalah sangat mudah menggunakan program untuk memecahkan kode nada DTMF dial yang di temukan pada saluran nada telepon. DTMF decoder juga digunakan untuk menerima pengiriman data melalui udara dalam gelombang frekuensi radio amatir. Berikut ini adalah frekuensi yang digunakan untuk DTMF sistem dial, yang juga disebut sebagai panggilan nada. Sinyal dikodekan sebagai sepasang sinusoidal (gelombang sinus) dari gambar di bawah yang bercampur satu sama lain. DTMF digunakan oleh sebagaian besar PSTN sistem untuk memutar nomor telepon dan juga digunakan untuk respon sistem suara seperti perbankkan telpon dan kadang-kadang melalui jaringan radio swasta untuk memeberikan sinyal dan mentransfer sejumlah data.
DTMF encoder adalah teknik penyandian angka-angka yang di sandikan dengan dua buah frekuensi yang berbeda.
Streaming menawarkan pendekatan baru untuk media di Internet. User tidak perlu menunggu sampai file selesai semua di download baru bisa dimainkan. Streaming Media dapat dimainkan ketika file media sedang ditransfer. Data yang ditransfer melalui Internet dimainkan kemudian dibuang. Streaming media juga menawarkan user control pada saat stream (ketika file dimainkan), hal yang tidak mungkin dilakukan dengan Web Server.
Satu lagi kelebihan streaming adalah anda dapat menggunakannya untuk live broadcast atau archived files yang bisa dilihat secara on-demand (atas permintaan). Streaming media files selalu dibatasi oleh user bandwith, karena streaming media terjadi pada real-time. Anda hanya bisa mengirimkan sebanyak mungkin bits yang user dapat terima.
Streaming media adalah suatu teknologi yang mampu mengirimkan file audio dan video digital secara on-demand maupun real time pada jaringan Internet
Streaming vs. Download
Download:
Download dan simpan file dalam HD sehingga dapat dinikmati pada saat offline.
File dapat dengan mudah dicopy
Tidak bisa real-time
waktu download lama baru file bisa dimainkan
Rawan pembajakan (piracy) tidak ada copyright protection
Streaming:
Click langsung segera dimainkan
Mendukung live broadcast (karena real time)
Mendukung User Control pada saat steaming (seperti memutar tape atau VCR) / User Interactivity
Mendukung Copyright protection
Hanya dapat dilihat pada saat online
File dihapus setelah dimainkan (tidak dapat dimainkan kembali secara offline)
Streaming Media Process
Men-setting streaming media component hanya merupakan langkah awal untuk menuju complete streaming media system
Anda juga harus membuat streaming media content, menaruhnya di server, dan menawarkan link untuk pengguna, prosesnya dibagi menjadi beberapa tahap yaitu:
Creation : Membuat audio/video content yang akan di stream
Encoding : Mengkonversi raw file menjadi format yang dapat di stream
Authoring : Mendesign bagaimana anda akan menyajikan media
Serving : Meletakan files pada server dan mempublish-nya di Internet
Format File Multimedia
Audio:
•AU, dulu merupakan format audio yang populer, dibuat sebagai tipe file UNIX.
•AIFF (Audio IFF), dikembangkan oleh Apple.
•WAV, standar file pada komputer windows
•MPEG Audio, standard kompresi video/audio.
•MIDI, tipe file multiplatform khusus untuk musik dengan suara synthetizer
Video:
•QuickTime, format video yang dikembangkan oleh Apple Macintosh.
•Video for Windows, format video untuk sistem operasi windows
MPEG, merupakan program kompresi data
Streaming Protocol
RSVP (Resource Reservation Protocol)
¨digunakan untuk mereserve bandwith sehingga data dapat tiba ditujuan dengan cepat dan tepat.
SMRP (Simple Multicast Routing Protocol)
¨Protocol yang mendukung ‘conferencing’ dengan mengganda-kan (multiplying) data pada sekelompok user penerima.
RTSP (Real-Time Streaming Protocol)
¨digunakan oleh program streaming multimedia untuk mengatur pengiriman data secara real-time.
Kompresi Data dengan Algoritma Huffman dan Algoritma Lainnya
Kompresi ialah proses pengubahan ekumpulan data menjadi suatu bentuk kode untuk menghemat kebutuhan tempat penyimpanan dan waktu untuk transmisi data [1]. Saat ini terdapat berbagai tipe algoritma kompresi [2,3], antara lain: Huffman, LIFO, LZHUF,LZ77 dan variannya (LZ78, LZW, GZIP), Dynamic Markov Compression (DMC), Block-Sorting Lossless, Run-Length, Shannon-Fano, Arithmetic, PPM (Prediction by Partial Matching), Burrows-Wheeler Block Sorting, dan Half Byte.
Berdasarkan tipe peta kode yang digunakan untuk mengubah pesan awal (isi file input) menjadi sekumpulan codeword, metode kompresi terbagi menjadi dua kelompok, yaitu :
ØMetode static: menggunakan peta kode yang selalu sama. Metode ini membutuhkan dua fase (two-pass): fase pertama untuk menghitung probabilitas kemunculan tiap simbol/karakter dan menentukan peta kodenya, dan fase kedua untuk mengubah pesan menjadi kumpulan kode yang akan ditransmisikan.
Contoh: algoritma Huffman statik.
ØMetode dinamik (adaptif) : menggunakan peta kode yang dapat berubah dari waktu ke waktu. Metode ini disebut adaptif karena peta kode mampu beradaptasi terhadap perubahan karakteristik isi file selama proses kompresi berlangsung. Metode ini bersifat 1-kali pembacaan terhadap isi file.
Contoh kebutuhan data selama 1 detik pada layar resolusi 640 x 480:
·Data text
1.1 karakter = 2 bytes (termasuk karakter ASCII Extended)
2.Setiap karakter ditampilkan dalam 8x8 pixels
3.Jumlah karakter yang dapat ditampilkan per halaman = (640 x 480) / (8 x 8) =4.800 karakter.Kebutuhan tempat penyimpanan per halaman = 4.800×2 byte = 9.600 byte = 9.375 Kbyte.
·Data Grafik Vektor
1.1 still image membutuhkan 500 baris
2.Setiap 1 baris direpresentasikan dalam posisi horisontal, vertikal, dan field atribut sebesar 8-bit
3.sumbu Horizontal direpresentasikan dengan log2 640 = 10 bits
4.sumbu Vertical direpresentasikan dengan log2 480 = 9 bits
1.Jenis : 256, 4.096, 16.384, 65.536, 16.777.216 warna
2.Masing-masing warna pixel memakan tempat 1 byte
3.Misal 640 x 480 x 256 warna x 1 byte = 307.200 byte = 300 Kbyte
Kebutuhan tempat penyimpanan untuk media kontinyu untuk 1 detik Playback:
-Sinyal audio tidak terkompres dengan kualitas suara telepon dengan sample 8 kHz dan dikuantisasi 8 bit per sample, pada bandwidth 6 Kbits/s, membutuhkan storage:
-Storage yang diperlukan = (64 Kbit/s / 8 bit/byte )x (1 s / 1.024 byte/Kbyte) = 8 Kbyte
-Sinyal audio CD disample 44,1 kHz, dikuantisasi 16 bits per sample.
-Storage = 44,1 kHz x 16 bits = 705,6 x 103 bits = 88.200 bytes untuk menyimpan 1 detik playback.
·Kebutuhan sistem PAL standar
1.625 baris dan 25 frame/detik
2.3 bytes/pixel (luminance, red chrom, blue chrom)
3.Luminance Y menggunakan sample rate 13,5 MHz
4.Chrominance (R-Y dan B-Y) menggunakan sample rate 6.75 MHz
5.Jika menggunakan 8 bit/sample, maka
-Bandwith=(13.4MHz + 6.75 MHz + 6.75 MHz ) x 8 bit = 216x106 bit/s
-Data rate= 640 x 480 x 25 x 3 byte/seconds = 23.040.000 byte/s
-Required storage space/s = 2.304 X 104 byte/s x (1 s / 1.024 byte/Kbyte) = 22.500 Kbyte
Contoh-contoh Teknik Kompresi Teks
1.Run-Length-Encoding (RLE)
-Kompresi data teks dilakukan jika ada beberapa huruf yang sama yang ditampilkan berturut-turu: Mis: Data : ABCCCCCCCCDEFGGGG = 17 karakter
-RLE tipe 1 (min. 4 huruf sama) : ABC!8DEFG!4 = 11 karakter
-RLE ada yang menggunakan suatu karakter yang tidak digunakan dalam teks tersebut seperti misalnya ‘!’ untuk menandai.
-Kelemahan? Jika ada karakter angka, mana tanda mulai dan akhir?
Misal data : ABCCCCCCCCDEFGGGG = 17 karakter
RLE tipe 2: -2AB8C-3DEF4G = 12 karakter. Misal data : AB12CCCCDEEEF = 13 karakter
RLE tipe 2: -4AB124CD3EF = 12 karakter
-RLE ada yang menggunakan flag bilangan negatif untuk menandai batas sebanyak jumlah karakter tersebut.
-Berguna untuk data yang banyak memiliki kesamaan, misal teks ataupun grafik seperti icon atau gambar garis-garis yang banyak memiliki kesamaan pola
-Best case: untuk RLE tipe 2 adalah ketika terdapat 127 karakter yang sama sehingga akan dikompres menjadi 2 byte saja.
-Worst case: untuk RLE tipe 2 adalah ketika terdapat 127 karakter yang berbeda semua, maka akan terdapat 1 byte tambahan sebagai tanda jumlah karakter yang tidak sama tersebut.
-Menggunakan teknik loseless
2. Static Huffman Coding
-Frekuensi karakter dari string yang akan dikompres dianalisa terlebih dahulu. Selanjutnya dibuat pohon huffman yang merupakan pohon biner dengan root awal yang diberi nilai 0 (sebelah kiri) atau 1 (sebelah kanan), sedangkan selanjutnya untuk dahan kiri selalu diberi nilai 1(kiri)
0(kanan) dan di dahan kanan diberi nilai 0(kiri) – 1(kanan)
-A bottom-up approach = frekuensi terkecil dikerjakan terlebih dahulu dan diletakkan ke dalam leaf(daun)
-Kemudian leaf-leaf akan dikombinasikan dan dijumlahkan probabilitasnya menjadi root diatasnya.
Mis: MAMA SAYA
A = 4 -> 4/8 = 0.5
M = 2 -> 2/8 = 0.25
S = 1 -> 1/8 = 0.125
Y = 1 -> 1/8 = 0.125
Total = 8 karakter
-Huffman Tree:
Sehingga w(A) = 1, w(M) = 00, w(S) = 010, dan w(Y) = 011
-Shannon-Fano Algorithm
Dikembangkan oleh Shannon (Bell Labs) dan Robert Fano (MIT). Urutkan simbol berdasarkan frekuensi kemunculannya. Bagi simbol menjadi 2 bagian secara rekursif, dengan jumlah yang kira-kira sama pada kedua bagian, sampai tiap bagian hanya terdiri dari 1 simbol.
Cara yang paling tepat untuk mengimplementasikan adalah dengan membuat binary tree. Adaptive Huffman Coding
-Metode SHC mengharuskan kita mengetahui terlebih dahulu frekuensi masing-masing karakter sebelum dilakukan proses pengkodean. Metode AHC merupakan pengembangan dari SHC dimana proses penghitungan
frekuensi karakter dan pembuatan pohon Huffman dibuat secara dinamis pada saat membaca data
-Algoritma Huffman tepat bila dipergunakan pada informasi yang bersifat statis. Sedangkan untuk multimedia application, dimana data yang akan datang belum dapat dipastikan kedatangannya (audio dan video streaming), algoritma Adaptive Huffman dapat dipergunakan
-Metode SHC maupun AHC merupakan kompresi yang bersifat loseless
Dibuat oleh David A. Huffman dari MIT tahun 1952 Huffman banyak dijadikan “back-end” pada algoritma lain, seperti Arithmetic Coding, aplikasi PKZIP, JPEG, dan MP3
3.DICTIONARY-BASED CODING
Algoritma Lempel-Ziv-Welch (LZW) menggunakan teknik adaptif dan berbasiskan “kamus” Pendahulu LZW adalah LZ77 dan LZ78 yang dikembangkan oleh Jacob Ziv dan Abraham Lempel pada tahun 1977 dan 1978. Terry Welch mengembangkan teknik tersebut pada tahun 1984. LZW banyak dipergunakan pada UNIX, GIF, V.42 untuk modem.
Algoritma Kompresi: BEGIN S = next input character; While not EOF { C = next input character; If s + c exists in the diactionary S = s + c Else { Output the code for s; Add string s + c to the dictionary with a new code S = c; } } END Algoritma Dekompresi: BEGIN S = NULL; while not EOF{ K = NEXT INPUT CODE; Entry = dictionary entry for K; Ouput entry; if(s != NULL) add string s + entry[0] to dictionary with new code S = Entry; } END
Aplikasi Kompresi :
• ZIP File Format o Ditemukan oleh Phil Katz untuk program PKZIP kemudian dikembangkan untuk WinZip, WinRAR, 7-Zip. o Berekstensi *.zip dan MIME application/zip o Dapat menggabungkan dan mengkompresi beberapa file sekaligus menggunakan bermacam-macam algoritma, namun paling umum menggunakan Katz’s Deflate Algorithm. o Beberapa method Zip: o Shrinking : merupakan metode variasi dari LZW o Reducing : merupakan metode yang mengkombinasikan metode same byte sequence based dan probability based encoding. o Imploding : menggunakan metode byte sequence based dan Shannon-Fano encoding. o Deflate : menggunakan LZW o Bzip2, dan lain-lain o Aplikasi: WinZip oleh Nico-Mak Computing
• RAR File o Ditemukan oleh Eugene Roshal, sehingga RAR merupakan singkatan dari Roshal Archive pada 10 Maret 1972 di Rusia. o Berekstensi .rar dan MIME application/x-rar-compressed o Proses kompresi lebih lambat dari ZIP tapi ukuran file hasil kompresi lebih kecil. o Aplikasi: WinRAR yang mampu menangani RAR dan ZIP, mendukung volume split, enkripsi AES.
Keterbatasan jangkauan dan frekuensi pemancar menjadi salah satu kendala bagi stasiun radio ”tradisional” saat ini. Keterbatasan ini, akhirnya memunculkan sebuah ide, bagaimana pengguna radio (user) bisa mendengarkan radio favoritnya dimana saja dan kapan saja. Internet radio dibuat untuk mangatasi keterbatasan ini.
Melalui internet radio, kita tidak hanya bisa mendengarkan radio seperti biasa. Akan tetapi, user bisa memanfaatkan tools lain seperti kita memanfaatkan tools di website pada umumnya. Internet radio menggunakan konsep audio streaming.
Streaming merupakan sebuah teknologi yang mampu mengkompresi atau menyusutkan ukuran file audio dan video agar mudah ditransfer melalui jaringan internet. Aplikasi teknologi streaming adalah aplikasi broadcasting, yaitu penyiaran audio ataupun video yang berbasis Internet Protocol (IP).
Secara teknis, broadcasting yang menggunakan teknologi streaming terbagi atas dua jenis, yaitu unicasting dan multicasting.
Dasar Streaming [Azikin]
Streaming dapat diartikan sebagai pengaliran data. Streaming mengacu kepada teknologi yang mampu mengkompresi atau menyusutkan ukuran file audio dan video agar mudah dilewatkan melalui jaringan yang terbatas bandwidthnya.
Saat file video atau audio distream, akan terbentuk sebuah buffer di sisi client dan data video atau audio tersebut akan mulai didownload ke dalam buffer yang telah terbentuk pada sisi client. Dalam waktu hanya sepersekian detik, buffer telah terisi penuh dan secara otomatis file video dan audio akan dijalankan oleh player.
CMS (Content Management Sistem)
CMS adalah sebuah sistem yang memberikan kemudahan kepada para penggunanya dalam mengelola dan mengadakan perubahan isi sebuah website dinamis tanpa sebelumnya dibekali pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat teknis.Dengan demikian, setiap orang, penulis maupun editor, setiap saat dapat menggunakannya secara leluasa untuk membuat, menghapus atau bahkan memperbarui isi website tanpa campur tangan langsung dari pihak webmaster.
Pemrograman Berorientasi Objek [Aziz]
Pemrograman berorientasi objek merupakan sebuah metode yang digunakan untuk mendapatkan solusi masalah melalui perspektif objek (benda, konsep, entitas). Objek ini memiliki atribut dan metoda yang digunakan bersama dengan objek yang lainnya, sehingga dapat dijadikan solusi untuk sebuah permasalahan.
Terdapat perbedaaan mendasar antara pemrograman prosedural dengan pemrograman yang berorientasi objek, pada pemograman procedural biasanya berupa baris-baris program yang dieksekusi terurut mulai dari baris teratas hingga bawah (line to line command execute). Teknik yang lebih canggih pada pemrograman prosedural dengan menggunakan procedure dan function yang menjadikan prosedural lebih modular (terbagi menjadi bagaian-bagaian yang lebih kecil). Pemrograman prosedural lebih menitikberatkan penyelesaian program berdasarkan urutan-urutan proses kerja.
Sedangkan pemrograman berorientasi objek memungkinkan kita membagi-bagi permasalahan berdasarkan objek-objek yang terlibat. Mendefinisikan peran masing-masing objek dalam proses penyelesaian masalah. Sehingga titik berat penyelesaian masalah dengan metode ini adalah pembagian tanggung jawab kepada masing-masing objek, bukan berdasarkan proses kerja.
Penyiaran radio digital mengubah informasi analog menjadi angka-angka biner yang nilaunya selalu berubah-ubah sesuai dengan besaran sinyal audio analog yang masuk. Sistim pemancar radio digital mengubah atau menyandikan (encode) sinyal suara analog yang masuk menjadi bilangan biner untuk dipancarluaskan/ Proses ini disebut sebagai Code/Decode (penyandian sinyal analog menjadi sinyal digital dan penguraian kembali dari sinyal digital menjadi sinyal analog, atau dari satu sistim penyandian yang satu ke penyandian yang lain), yang selanjutnya disebut CODEC. Dalam hal dimana studio telah mengirim sinyal digital ke pemancar, pemancar radio digital hanya memproses sinyal audio digital yang masuk siap untuk dipancarluaskan. Proses ini disebut modulation. Pesawat penerima radio digital menguraikan kembali (decode) sinyal digitalyang diterima menjadi sinyal audio analog kembali (pada proses yang berlawanan dari digital ke analog). Proses ini disebut demodulation.
Terdapat beberapa cara untuk merubah sinyal analog menjadi sinyal digital. Cara-cara ini dapat diuraikan secara matematis yang disebut dengan Algorithm (Algoritma). Dalam menggunakan algoritma, para pakar dan teknisi dapat membuang komponen-komponen sumber sinyal audio digital yang tidak diperlukan dan hanya meninggalkan bagian-bagian yang penting saja untuk dipancarluaskan melalui antena dan selanjutnya direproduksi pada pesawat penerima radio atau pada atau pafda alat pemutar rekaman. Sebagai contoh, perbasarkan “psycho-acoustical” yang dimiliki telinga manusia dikeahui bahwa telinga tidak dapat merasakan suara-suara yang berintensitas rendah yang tersembunyi oleh frekuensi-frekuensi lain yang sama. CODEC algoritma sangat membantu konsep ini dengan memisahkan dan tidak memancarluas-kan sura-suara yang tidak diperlukan tadi tanpa mengurangi kualitas suara audio yang telah disandikan (decode) menjadi informasi analog pada pesawat penerima.
Proses pengurangan bit ini dikenal dengan istilah compresion (kompresi). Kompresi akan mengurangi sinyal yang masuk menjadi komponen-komponen penting sedemikian rupa yang berkibat pada berkurangnya lebar pita (band-width) saluran transmisi. Kompresi sinyal audio ini menjadi sangat penting untuk mengurangi lebar pita transmisi siaran digital. Beberapa jenis kompresi algoritma sistim pengolahan sinyal audio secara digital yang kita kenal adalah AAC, PAC, MP-3 atau HDC. Ini semua merupakan nama dagang dari sistim kompresi informasi audio digital dan untuk menyatakan hak cipta intelektual dan sekaligus untuk membedakan masing-masing cara kodefikasi algoritma diantara beberapa sistim tadi.
Dengan menggunakan HD-Radio secara digital sinyal yang telah dimodulasikan pada frekuensi yang sama dengan frekuensi analog yang ada
Stasiun penyiaran radio terestrial dari yang diselenggarakan oleh komunitas stasiun penyiaran radio saat ini masih menggunakan sistim analog, dan saat ini mulai memikirkan beralih teknologi penyiaran digital. Radio digital capat menghasilkan beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan teknologi penyiaran analog. Khususnya, bila siaran radio AM-MW analog dirubah ke teknologi radio digital hasilnya sangat menakjubkan. Siaran radio digital MW menghasilkan kualitas suara yang jauh lebih baik dibandingkan dengan penyiaran AM-MW biasa, bahkan digambarkan sebagai “mendekati kualitas penyiaran radio FM”. Teknologi penyiaran yang dipancarluaskan pada soektrum frekuensi 88 Mhz s/d. 108 MHz kualitasnya dinyatakan mendekati kualitas Compact Disc dengan berkurangnya distorsi-distorsi yang biasanya mengurangi kualitas transmisi radio FM.
Amerika telah memilih menggunakan sistim penyiaran radio digital In-Band/On Channel, yang sering dikenal sebagai IBOC, sebagai salah satu sistem penyiaran radio digital. Sistim IBOC bekerja dengan menggabungkan sinyal audio analog dengan sinyal audio digital agar diperoleh kompatibilitas antara penyiaran radio analog dengan penyiaran radio digital, baik pada radio AM maupun FM. Sistim penyiaran radio digital IBOC yang juga disebut sebagai “HD-Radio” dikembangkan oleh iBiquity Radio dan secara resmi telah ditentukan sebagai sistem penyiaran radio digital di Amerika Serikat.
Sistem teknologi penyiaan radio digital IBOC menyajikan penerimaan siaran radio yang bebas dari dari distorsi sinyal elektrostatis, noise baik pada siaran spektrum frekuensi penyiaran AM-MW dan FM-VHF. Selain daripada itu, penyiaran radio IBOC juga menyediakan layanan data nirkabel (wireless), audio on demand, data yang berkenaan dengan materi yang disiarkan oleh siaran radio digital (judul lagu, artis musik, berita, ramalan cuaca, keadaan lalu lintas dan tentunya siaran komersial tambahan.
Teknologi penyiaran radio digital IBOC di Amerika memberikan kemiripan dengan siaran radio dgital di negara-negara lain di luar Amerika. Yang telah bermigrasi ke arah penyiaran digital. Media audio, termasuk siaran radio melalui satelit, radio internet, alat pemutar (player) pribadi MP3, layanan audio on demand, siaran kabel dan sistem penyiaran audio DBS, menurutpenelitian konsumen menunjukkan adanya kecenderungan masyarakat untuk menyukai media informasi dan hiburan yang telah berbasis digital. Hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya produk peralatan digital yang sangat diminati masyarakat. Masyarakatpun juga sudah sangat memahami keuntungan teknologi digital. Sebagai contoh di masa transisi dari penyiaran TV analog ke penyiaran TV digital telah menunjukkan bahwa konsumen sangat menikmati kesempurnaan kualitas hiburan gambar dan suara hasil teknologi digital. Tanda-tanda ini ini telah ditunjukkan ditunjukkan dengan baik pa penyiaran radio digital. Tetapi memang dilain pihak bagi sebagian masyarakat datangnya teknologi digital bahkan sangat membingungkan. Jadi penyelesaiannya, agar migrasi dari sistem penyiaran analog ke digital berhasil dengan baik, pemerintah harus melakukan pendidikan kepada masyarakat/konsumen dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hal-hal yang harus dimengerti oleh masyarakat sebagai dampak dari perkembangan teknologi digital tadi.
Menurut penelitin yang dilakukan oleh Visteon Corporation, “HD-Radio” telah berada ditengah-tengah masyarakat, dan masyarakatpun juga telah siap menerima keberadaan HD-Radio. Penelitian Visteon’s Consumer Research menunjukkan bahwa 80% responden yang telah membeli mobil-mobil mewah menginginkan agar di mobil merekan telah dipasang sistim penerima radio digital, dan lebih dari 50% responden yang telah memiliki kendaraan setuju dengan hal ini.
Visteon juga menyebutkan: “Sistim penerima “HD-Radio” memberikan layanan kualitas audio yang berkualitas tinggi melalui penyiaran radio digital AM dan FM tanpa harus membayar biaya tambahan sebagaimana layanan pada radio satelit. Sistim penyiaran radio digital selain memperbaiki kualitas suara dan bebas dari gangguan muatan elektrostatis, pemilik “HD-Radio” juga menghilangkan kehausan pendengar dengan adanya fitur-fitur tambahan penyiaran digital seperti informasi keadaan lalulintas, layanan berita dan layanan-layanan hiburan lainnya, disamping layanan lain yang dapat diperoleh secara berlangganan.
Penyiaran radio digital merupakan teknologi di bidang penyiaran radio terestrial yang mengirimkan sinyal audio/suara setara kualitas kualitas CD (Compact Disc) bebas dari interferensi dan noise kepada pendengar radio. Di Amerika Serikat istilah umum yang digunakan untuk sistim penyiaran radio digital ”In-Band/On-Channel (IBOC) adalah ”HD-Radio” yang merupakan nama dagang untuk sistim enyiaran radio digital AM dan FM. Izin pemakaian nama HD-Radio diberikan pada iBiquity Digital Corporation, satu-satunya perusahaan yang mengajukan nama untuk sistim penyiaran radio digital.
Istilah Digital Audio Broadcasting (DAB) aslinya berasal dari Eropa dan saat ini digunakan di beberapa negara Eropa, Kanada dan Asia untuk menyatakan sistim penyiaran radio digital secara komersial yang memerlukan pita frekuensi penyiaran diluar spektrum frekuensi radio AM dan FM. Sistim penyiaran radio digital DAB memerlukan lebar pita atau lebar kanal untuk setiap stasiun penyiaran yang lebih lebar dari yang dialokasikan untuk stasiun penyiaran radio AM dan FM di Amerika Serikat saat ini. Sehingga memerlukan spektrum frekuensi baru untuk memancarluaskan siaran radio digital DAB. Eureka-147-DAB™ merupakan merek dagang untuk teknologi penyiaran radio digital yang dioperasikan di luar Amerika Serikat dimana disana tersedia pita frekuensi baru (misalnya pita frekuensi diluar spektrum frekuensi untuk penyiaran AM-MW dan radio FM-VHF). Di Amerika Serikat tidak tersedia pada frekuensi baru diluar spektrum frekuensi yang ada untuk penyiaran AM dan FM, sehingga untuk penyiaran radio digital IBOC secara terestrial harus tetap beroperasi pada spektrum frekuensi radio AM dan FM
Eureka-147 DAB, bersama-sama dengan beberapa sistem penyiaran digital lainnya dievaluasidan diuji coba pada tahun 1995. Saat itu Eureka-147 telah menjadi suatu sistem yang mendominasi sistim penyiaran digital dan menempati spektrum frekuensi baru, sementara IBOC (In-Band-on-Channel) dan IBAC (In-Band/Ajacent Channel) secara domestik telah diajukan untuk tetap menempati spektrum frekuensi yang digunakan untuk penyiaran AM dan FM yang sudah ada untuk memancarluaskan sistem penyiaran radio analog dan digital.
Pengembangan teknologi penyiaran radio digital IBOC terjadi dalam tiga tahap:
1. Tahap pertama sebagai proyek ACORN: terjadi antara tahun 1990 s/d. 1992 dimana USA Digital Radio’s (USADR) yang mencoba untuk membuat suatu konsep penyiaran radio secara digital. Ternyata didalam perkembangannya, usaha-usaha yang dilakukan diterjemahkan salah oleh industri yang mencoba menerapkan penyiaran radio digital. USADR bermaksud untuk secara konseptual mendemonstrasikan penyiaran radio secara digital dan diterima oleh pesawat penerima radio pada spektrum frekuensi radio AM-MW dan FM-VHF yang telah ada dengan interferensi minimal pada pesawat penerima analog.
Peristiwa penting yang perlu dicatat pada periode ini adalah:
• Transmisi siaran IBOC pertama diselenggarakan pada tanggal 9 Juli 1992 jam 14:45 pada frekuensi 1660 kHz di Xentron Corporation, Cincinati, Ohio.
• Transmisi siaran FM-IBOC pertama diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus 1992, pada WILL, Urbana, IL.
2. Tahap kedua dimana USADR’s secara komersial berhasil menyebarluaskan penggunaan sistim AM dan FM. Usaha ini menghasilkan modem AM dan FM yang digunakan pada saat ini. Tanpa ragu-ragu merupakan salah satu dapat dikatakan bahwa modem ini merupakan salah satu modem yang dikembangkan untuk mengirimkan sinyal digital.
Peristiwa penting yang perlu dicatat pada periode ini adalah:
• Perkembangan cukupnya perangkat keras dan perangkat lunak bagi pesawat penerima dan pemancar yang cukup untuk melakukan percobaan-percobaan di laboratorium dan di lapangan serta untuk keperluan komersial.
• Peragaan sistim penyiaran pada pita frekuensi FM oleh USADR pertama kali ketika berlangsung NAB Radio Show di WMMO, Orlando, Florida di bulan September 1999.
3. Tahap ketiga ialah uji coba penyiaran digital yang berlangsung hampir lima tahun terus menerus di NPR, yaitu salah satu afiliasi dari stasiun penyiaran WETA-FM di W dan NRC menyetujui percobaan siaran ini hanya pada siang hari saja. Sementara untuk sistim penyiaran FM Digital boleh diselenggarakan pada siang dan malam hari. Menindaklanjuti persetujuan NRSC tadi, iBiquity Digital Corpotation mulai memperkenalkan sistim penyiaran IBOC dan para pabrikan peralatan penyiaran radio juga memperkenalkan peralatan exciter dan pemancar IBOC. Di sisi konsumen 13 perusahaan yang membuat peralatan elektronik untuk rumah tangga pada acara Consumer Electronic Show di tahun 2003 mengumumkan rencananya untuk segera menerapkan sistim penyiaran radio ditigal. Pada tanggal 2 Oktober 1992, FCC telah mengesahkan pemakaian sistim IBOC sebagai sistim penyiaran radio digital di Amerika Serikat.